Launching Kali Lingkas, Dinkes Ingin Semua Desa di Jepara 100 Persen ODF

Plt Bupati Jepara Dian Kristiandi meresmikan Kali Lingkas di Obyek Wisata Kali Bening, Dukuh Ngerebu, Desa Tanjung, Kecamatan Pakis Aji. (Foto: Diskominfo Jepara)

Pakis Aji – Pemerintah Kabupaten Jepara pada akhir Juni lalu meresmikan Kali Lingkas (Kader Peduli Kaline Bening Kakuse Sehat) guna menumbuhkan peran serta masyarakat dalam mendukung program Open Defecation Free (ODS) atau Stop Buang Air Besar Sembarangan.

Plt Bupati Jepara Dian Kristiandi saat meresmikan, berharap masyarakat Jepara, khususnya Desa Tanjung tidak lagi buang air besar (BAB) sembarangan, karena dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Ia menuturkan, dalam menjalankan program ODF, diperlukan kerja sama dan komitmen bersama untuk menjaga kesehatan dan memberi edukasi serta kesadaran kepada masyarakat tentang kesehatan.

“Maka perlu dijaga dan diantisipasi supaya tidak jatuh sakit. Lebih baik menjada dari pada  mengobati,” terangnya di Obyek Wisata Kali Bening, Dukuh Ngerebu, Desa Tanjung, Kecamatan Pakis Aji, Jumat (28/6/2019).

Dalam acara tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Mudrikatun membeberkan data, dari 195 desa yang ada di Jepara, pada tahun 2018 sebanyak 120 desa atau 61,5 persen telah dinyatakan lulus dan diberikan sertifikat sebagai desa ODF. Artinya, tahun ini masih ada 75 desa yang belum ODF. Pihaknya pun berharap di akhir tahun ini seluruh desa yang ada di Bumi Kartini dinyatakan lulus 100 persen menjadi desa ODF.

“Data jamban yang masih buang air besar sembarangan berjumlah 17.372 KK, sedangkan jamban sehat permanen 57,17 persen, jamban sehat semi permanen 22,92 persen, dan sharing atau numpang sebanyak 15,09 persen,” beber Mudrikatun dalam portal resmi Pemkab Jepara.

Ia melanjutkan, pihak Dinkes telah telah melakukakn berbagai upaya sebagai strategi percepatan ODF. Upaya tersebut meliputi sosialisasi atau penyuluhan, pemicuan sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kemampuan masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan program pengembangan cakupan sanitasi. Di samping itu, pihaknya juga telah melakukan monitoring dan evaluasi verifikasi ODF, serta pemberdayaan peran masyarakat dengan Kali Lingkas.

Kelancaran Program Percepatan ODF

Menurut Setyaningsih dan Kusuma (2016), mengubah perilaku masyarakat tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun jika masyarakat dapat memperbaiki perilakunya dan dapat diajak bekerja sama, maka potensi keberhasilan dari program yang diupayakan pemerintah sebagai strategi percepatan ODF dapat ditingkatkan.

Salah satu faktor yang memengaruhi kelancaran program ialah tingkat pendidikan masyarakat. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh masyarakat, maka akan semakin mudah keberhasilan program dicapai. Namun, hal itu tidak lagi jadi kendala jika program dilakukan dengan pola komunikasi yang baik dan sederhana.

Sementara itu, Sari (2018) menyebutkan ada tiga faktor utama yang memengaruhi optimalisasi dari implementasi program percepatan ODF yang dicanangkan pemerintah. Pertama, sumber-sumber kebijakan yang dimiliki pemerintah daerah dalam implementasi program percepatan ODF harus memadai. Sumber-sumber kebijakan tersebut meliputi sumber dana yang memadai, sumber daya manusia yang kompeten, dan fasilitas yang memadai, sehingga dapat membantu mendorong kelancaran program.

Kedua, Keterlibatan seluruh kelompok kepentingan. Ketiga, adanya kemauan masyarakat untuk mengubah perilaku buang air besar sembarangan dan membangun jamban untuk mewujudkan keberhasilan program percepatan ODF di suatu daerah.