Pasar Desa Tegalsambi Rampung Renovasi, Kembalikan Eksistensi Pasar Tradisional

Asisten II Sekda Mulyaji (kanan) dan Kepala Desa Tegalsambi Agus Santoso (kiri) beserta perangkat desa meninjau Pasar Desa Tegalsambi yang baru diresmikan. (Foto: Diskominfo Jepara)

Tahunan – Pasar Desa Tegalsambi yang merupakan salah satu ikon desa di Kecamatan Tahunan kini selesai direnovasi. Dengan adanya bangunan baru yang lebih representatif, pasar ini diharapkan bisa mengembalikan budaya belanja masyarakat ke pasar tradisonal.

Kepala Desa Tegalsambi Agus Santoso memaparkan bahwa Pasar Desa Tegalsambi sudah ada sejak sekitar 20 tahun lalu. Pasar tersebut direnovasi lantaran bangunannya yang sudah tua. Perbaikan pasar, katanya, dilakukan secara bertahap selama tiga tahun, dimulai dari tahun 2017. Kini, pasar yng menempati lahan seluas 336 meter persegi dan diresmikan pada Senin (15/7/2019) itu telah ditempati oleh 42 pedagang terdiri dari 36 lapak dan delapan kios.

Terkait anggaran, Agus mengatakan, pembiayaan bangunan pasar bersumber dari dana desa dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp 178 juta. “Yang pertama 2017 kita anggarkan Rp 50 juta, kedua Rp 50 juta, dan ketiga Rp 78 juta sekaligus diresmikan,” terangnya, dirilis dari situs resmi Pemkab Jepara.

Renovasi dan penataan pasar, imbuhnya, juga untuk memberikan kesan nyaman bagi pedagang dan pembeli. Yang terpenting dikatakannya, adalah menanamkan kembali budaya belanja ke pasar tradisional, sekaligus mendukung pemberdayaan masyarakat melalui ekonomi kerakyatan. “Jadi tidak sedikit-sedikit ke Indomart atau Alfamart, di pasar tradisional juga ada. Kita juga ada minimarket milik desa di sebelah kiri pasar itu menyediakan juga beraneka kebutuhan,” tambah Agus.

Peresmian pasar ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Plt Bupati Jepara Dian Kristiandi di ruang kerjanya. Hari berikutnya, peresmian dilanjutkan dengan pengguntingan pita dan pemotongan tumpeng oleh Asisten II Sekda Mulyaji di lokasi pasar desa. Mulyaji pun berkesempatan meninjau langsung kondisi pasar dan berdialog dengan sejumlah pedagang dan pembeli.

Mengembalikan Nilai-nilai Lokal dengan Revitalisasi Pasar Tradisional

Bagi sebagian orang, besar kemungkinan membeli kebutuhan sehari-hari di pusat belanja modern terasa lebih menyenangkan. Suasana yang bersih, nyaman, dan bernuansa kekinian membuat sebagian masyarakat betahberlama-lama, membeli ini-itu di pusat belanja modern. Namun dibalik gemerlap kemegahan pusat belanja modern, ada pasar tradisional yang harus dijaga keberlangsungannya. Hal itu mengingat pasar tradisional penuh dengan nilai-nilai lokal.

Sejumlah upaya perlu dilakukan agar eksistensi pasar tradisonal tidak hilang tergerus zaman, agar budaya tawar menawar yang menjadi warna relasi sosial kemasyarakatan tidak terlupakan. Salah satu upaya tersebut adalah dengan melakukan revitalisasi pasar. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Kiky Srirejeki menjelaskan bahwa revitalisasi pasar merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional.

Upaya tersebut meliputi perbaikan fisik pasar dan perbaikan pengelolaan atau manajemen pasar. Dengan demikian, katanya, ada dua hal penting yang mendasari revitalisasi pasar, yakni akan ada perbaikan bangunan pasar secara fisik. Harapannya adalah para pedagang dan pembeli menjadi lebih nyaman bertransaksi di pasar tradisional. Melalui upaya itu juga citra pasar tradisional yang terkesan tidak nyaman akan bisa diperbaiki, lalu berdampak terhadap peningkatan jumlah pembeli dan kunjungan masyarakat.

Dampak yang lebih besar lagi, lanjut Kiky, adalah peningkatan kegiatan ekonomi formal dan nonformal melalui transaksi di pasar tradisional. “Selain mempercantik fisik pasar, revitalisasi pasar juga memiliki misi lain yang tidak kalah penting, yakni memperbaiki manajemen pasar,” ujar Kiky.

Dari perbaikan manajemen pasar itu akan bermuara pada pengelolaan hak dan kewajiban pedagang dan pembeli, lalu pada akhirnya pelayananan pasar semakin mengalami peningkatan. Misalnya, tidak ada pungutan liar (pungli) bagi pedagang kecil, dan lain sebagainya. “Dari situ sudah bisa disimpulkan betapa pentingnya revitalisasi pasar tradisional,” imbuh Kiky.