Festival BUMDes Dorong Geliat Ekonomi Warga Jepara

Asisten III Setda Jepara Fadkurrozi (kanan) mencoba makanan di stand Festival BUMDes di Alun-alun 2 Jepara. (Foto: Diskominfo Jepara)

Kauman, Jepara – Pemerintah Kabupaten Jepara menggelar Festival Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan produk unggulan desa pada Jumat-Minggu (2-4/8/2019) di Alun-alun 2 Jepara, Kelurahan Kauman, Kecamatan Jepara. Dengan adanya acara ini diharapkan BUMDes di Kabupaten Jepara bisa menyumbangkan kontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsospermades) Kabupaten Jepara Bambang Slamet Raharjo dalam rilis Pemkab Jepara menyampaikan, saat ini seluruh desa di Jepara sudah memiliki BUMDes. Pembentukan BUMDes tersebut bertujuan untuk menampung seluruh kegiatan perekonomian yang ditujukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, baik yang berkembang menurut adat istiadat dan budaya setempat.

“Saya berharap kegiatan ini mampu memperluas pemasaran produk BUMDes,” kata Bambang.

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Pengembangan Usaha BUMDes Kemendes dan Transmigrasi Febriyan Ayuswar mengatakan, masing-masing desa memiliki problematika yang berbeda. Namun, menurutnya, yang paling penting adalah sinergitas antara pemerintah desa dengan BUMDes.

“Dana desa yang dikucurkan pemerintah banyak sekali. Fokusnya hampir 80 persen untuk pembangunan infrastruktur. Namun untuk 2019 ini diharapkan untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat, termasuk BUMDes,” urainya.

Pemberdayaan BUMDes Melalui Kelompok Ekonomi Kewirausahaan

Keberadaan BUMDes memang diharapkan bisa meningkatkan perekonomian desa. Dalam pengelolaan BUMDes, Mustanir (2019) memandang ada empat hal yang perlu dipikirkan bersama. Pertama, mengenali dan menggali potensi masing-masing desa dan mencari cara untuk mengelola potensi tersebut. Kedua, mendorong aliran dana CSR oleh swasta untuk mendukung permodalan BUMDes. Ketiga, mendorong munculnya inisiasi dari pemerintah desa. Keempat, mendorong peningkatan partisipasi masyarakat secara nyata. Dengan melakukan sedikitnya empat hal tersebut, setiap desa diharapkan mammpu memiliki BUMDes yang bisa turut menopang perekonomian masyarakat desa.

Selain itu, Mustanir juga memandang perlu adanya pemberdayaan BUMDes melalui kelompok ekonomi kewirausahaan secara partisipatif untuk mewujudkan kemandirian ekonomi desa melalui pengembangan kelembagaan dan pembedayaan pengelolaan usaha ekonomi masyarakat yang dilaksanakan dengan keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan swasta sehingga semua stakeholder di desa berperan optimal dalam menumbuhkembangkan perekonomian desa.

Pemberdayaan dengan metode tersebut memiliki beberapa tujuan, antara lain: menguatkan kapasaitas kelembagaan lainnya guna meningkatkan perekonimian desa serta memperkuat pendapatan asli desa (PAD); meningkatkan kemampuan pengelolaan usaha lembaga ekonomi desa yang berbasis pada pengelolaan potensi desa sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan peluang pasar; mengembangkan kemitraan usaha dengan unit maupun kelompok usaha yang ada di desa dan luar desa.

Selain itu juga untuk mengembangkan modal usaha melalui penggalian dana masyarakat maupun kerja sama dengan pihak ketiga; menjadi tulang punggung pertumbuhan dan pemerataan ekonomi pedesaan; memperkuat sinergisme perguruan tinggi dengan stakeholder terkait dalam pembangunan desa; dan membentuk desa mandiri.

Dengan metode tersebut, maka akan menunmbuhkan cara pandang, pola pikir atau model pemberdayaan eknomi BUMDes yang bersifat holistik, dan upayanya lebih diarahkan pada pemberdayaan BUMDes itu sendiri.