Hasimah Soeharsono, Tokoh Jepara Penerus Cita-cita Kartini

Ia sosok yang berani dan tegas, dengan ide dan gagasan pembaharuan serta berpikir modern. Perempuan yang bersedia berjuang untuk kepentingan bersama, memajukan daerahnya, dan tak lupa membawa semangat emansipasi Kartini dengan mengangkat harkat dan derajat kaum wanita sebagai tujuan luhurnya. Itulah yang membuatnya dijuluki sebagai perempuan tiga zaman, penerus cita-cita Kartini di Jepara.

Hasimah lahir di Yogyakarta pada 6 Juli 1938, putri kelima dari pasangan Eyang Mardiyah dan Kyai Sastro Suwito. Setelah menikah dengan Moch. Soleh Soeharsono dan dikaruniai enam anak, ia dan keluarga pindah ke Jepara. Terlahir sebagai perempuan serta begitu merasakan gelora emansipasi Kartini, membuat hatinya tergugah untuk meneruskan ide-ide perjuangan sosok kelahiran Jepara itu.

Dalam hal ini Hasimah Soeharsono memiliki kemauan amat kuat. Seperti nukilan dari surat Kartini yang selalu ia ingat: “Tahukah engkau semboyanku? ‘Aku mau!’ Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata ‘Aku tiada dapat!’ melenyapkan rasa berani. Kalimat ‘Aku mau!’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung.” Semboyan itu seakan menjadi mantra bagi Kartini, pun bagi Hasimah.

Hasimah merupakan pengagum Kartini. Ia bertekad menyebarluaskan pemikiran Kartini dan memperbaiki nasib kaum perempuan, terutama di daerah Jepara. Ia mengingatkan kepada seluruh perempuan di wilayahnya untuk menyikapi dengan cerdas perkembangan zaman, dengan menyadari peran dan fungsi perempuan sebagai penerus perjuangan Kartini.

Hal itu pernah ditekankan Hasimah dalam makalah yang dibawakannya pada sarasehan “Peranan Wanita di Era Indonesia Baru” di Gedung DPRD belasan tahun lalu. Gagasan yang terasa masih relevan dengan perkembangan zaman saat ini.

Menurutnya, perempuan memiliki peran penting dalam pembangunan. Terdapat banyak program pembangunan yang membutuhkan partisipasi kaum perempuan sebagai salah satu motor penggerak. Salah satunya yaitu upaya memberikan pendidikan awal bagi anak-anaknya, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, menurunkan angka kematian bayi, memastikan keikutsertaan perempuan dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, serta ikut berperan aktif dalam kerja sama untuk pembangunan dan kesejahteraan bersama.

Mantan Ketua FKP itu selalu mengingatkan bahwa peran sebagai ibu merupakan tanggung jawab besar untuk menyiapkan sumber daya manusia yang utuh, sebagai pelaku pembangunan bangsa Indonesia.

Dalam membawa serta cita-cita Kartini, Hasimah adalah seorang inspirator yang baik. Ia berpesan agar wanita masa kini bisa lebih tangguh dan berkembang untuk menghadapi tantangan zaman. Jasadnya kini mungkin telah tidur untuk selama-lamanya, tapi jasa dan cita-cita mulianya tak pernah lekang dimakan masa. Hasimah wafat di Jepara pada 3 Desember 2017, dengan meninggalkan jejak perjuangan sosok idolanya, untuk diteruskan oleh generasi selanjutnya.

One thought on “Hasimah Soeharsono, Tokoh Jepara Penerus Cita-cita Kartini

Comments are closed.