Guru Sejarah di Seluruh Tingkatan Pendidikan Sebagai Duta Budaya

Seminar Sehari Guru Duta Budaya yang diselenggarakan Yayasan Kartini Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Dahma Bhakti Lestari serta Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Kabupaten Jepara di Gedung Shima. (Foto Dok. DiskominfoJepara)

DEMAAN – Yayasan Kartini Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Dahma Bhakti Lestari serta Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Kabupaten Jepara menyelenggarakan Seminar Sehari Guru Duta Budaya di Gedung Shima, Sabtu (29/12/2019) pagi.

Guru-guru sejarah di seluruh tingkatan pendidikan dijadikan sebagai duta budaya di Kabupaten Jepara. Mereka dituntut untuk mengembangkan pembelajaran karakter anak didik, berbasis kearifan sejarah dan budaya lokal.

Kegiatan ini menghadirkan tiga pembicara sekaligus yaitu, Alamsyah (Universitas Diponegoro Semarang), Hadi Priyanto (penulis), dan Sarjono (budayawan). Hadir pula Lestari Moerdijat sebagai Ketua Yayasan Dharma Bakti Lestari Indonesia. Pesertanya sendiri yakni seratus guru sejarah SMA, SMK, GURU Mapel IPS SMP, guru SD, PAUD, TK, dan pegiat budaya lokal di Kabupaten Jepara.

Sejarah Merupakan Salah Satu Sumber Inspirasi

Penulis Buku Hadi Priyanto mengatakan, beban kurikulum 2013 saat ini cukup menyulitkan guru, untuk menyelipkan materi kearifan sejarah dan budaya lokal. Selain itu, beban kurikulum saat ini tidak disertai literatur khususnya sejarah lokal. Sehingga meyulitkan mereka untuk mengajarkan tentang kearifan yang ada. “Dengan bekal ini, kami berharap guru bersedia bergerak mengembangkan sejarah lokal di Jepara, termasuk tokoh Ratu Kalinyamat, yang saat ini tengah diusulkan menjadi salah satu pahlawan nasional di Indonesia,” katanya.

Hadi menambahkan, melalui kegiatan tersebut diharapkan para peserta akan mendapatkan bekal pengetahuan tentang kearifan sejarah dan budaya lokal Jepara, utamanya tentang Ratu Kalinyamat dan RA Kartini. Disamping itu kepada peserta juga akan diberikan materi metode pembelajaran yang mungkin bisa dilakukan oleh para guru untuk mengajarkan kearifan sejarah lokal kepada siswanya. Oleh sebab itu, melalui kegiatan ini diharapkan dapat dibangun komitmen bersama, guru sebagai duta budaya. ”Ini salah satu strategi dan metode dalam mengembangkan pembelajaran karakter anak didik berbasis kearifan sejarah dan budaya lokal,” ujar dia.

Ketua YDBL Lestari Moerdijat menyampaikan, ini sebagai upaya mendukung Ratu Kalinyamat sebagai sebagai pahlawan nasional. Salah satunya melibatkan guru sejarah ini sebagai duta budaya. “Guru sejarah ini adalah yang berhadapan langsung dengan generasi bangsa. Mereka yang berkomunkasi dan punya kesempatan untuk meyampaikan pemimpin perempuan di Jepara. Jauh sebelum kita mengenal, bahwa poros martim adalah komponen utama yang menjadi bagian dari Ratu Kalinyamat untuk mempertahankan kedaualatan negara. Ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, dan ini harus diinformasikan kepada masyarakat melalui guru,” kata dia.

Dijelaskan, Jepara merupakan kota tua yang eksistensinya telah mulai dicatat sejarah pada abad ke-6. Perjalanan kota ini juga diwarnai dengan kehadiran dan kebesaran Ratu Kalinyamat yang telah mengantarkan Jepara dalam puncak kebesarannya sebagai bandar terbesar dipesisir utara pulau Jawa. ”Juga perlawanannya terhadap penjajahan Portugis di Malaka yang kemudian menjadi salah satu sumber inspirasi bangsa ini untuk menolak dan melawan segala bentuk penindasan dan penjajahan,” katanya.