Pengabdian untuk Jepara: Kisah Hidup Hasimah Soeharsono

Pengabdian untuk Jepara: Kisah Hidup Hasimah Soeharsono. (Foto: Pandivabuku.com)

Donorojo-Seringkali luput dari kita, bahwa di luar sana ada tokoh-tokoh penting yang membawa perubahan besar walaupun namanya tidak santer dikenal oleh banyak orang.

Jejak perjuangan kaum wanita dalam menyusun pondasi peradaban yang egaliter bukanlah hal yang mudah. Banyak tokoh kaum wanita yang menemui aral ketika berusaha mendapatkan hak-hak yang seharusnya dimiliki tanpa harus menerima diskriminasi gender.

Salah satunya adalah Hasimah Soeharsono yang ditulis oleh Haris Djoko Nugroho dalam buku yang berjudul “Pengabdian untuk Jepara: Kisah Hidup Hasimah Soeharsono

Harus Djoko Nugroho menjelaskan buku ini berisi biografi politik seorang tokoh perempuan Jepara yang namanya tenggelam dalam hiruk pikuk nafsu feminisme global. Seperti yang telah banyak diketahui, gerakan-gerakan feminisme berakar dari Barat, dan berkembang pesat dengan beragam proses bargaining terhadap berbagai isu, mulai dari isu kebangsaan, isu politik, sosial, ekonomi, hingga kebudayaan.

“Akan tetapi, masyarakat Indonesia melupakan satu hal penting yang sebenarnya merupakan jembatan kunci menuju penerapan emansipasi sejati, yakni energi lintas zaman perempuan Jepara,” jelasnya.

Ia menceritakan di masa Jawa kuno Jepara dipegang oleh wibawa Ratu Shima, di masa selanjutnya pancaran wibawa Ratu Shima dilanjutkan Ratu Kalinyamat yang terkenal sebagai pemegang kekuasaan paling dominan maritim utara Jawa.

“Berselang beberapa abad kemudian, muncul sosok Kartini yang tidak hanya melenggangkan diri di kursi ningrat, tetapi terjun langsung dalam gagasan dan tindakan guna mewujudkan hak pendidikan bagi kaum perempuan,” bebernya.

Setelah Kartini, lanjutnya, terdapat jeda panjang perempuan yang memiliki daya tawar besar di dalam pusaran politik Jepara.

“Hingga pada akhirnya, lintasan sejarah perempuan berdikari Jepara yang diabadikan dalam Tugu Tiga Wanita, dan kami menyebutnya Tri Wanita Utama, pada tahun 1957 dipupuk kembali oleh Hasimah,” ujarnya.

Maka lengkap lah Jepara sebagai pusat studi perjuangan perempuan yang paling representatif di masa sekarang karena tri wanita utama telah bertransformasi menjadi catur wanita tama, dengan Hasimah sebagai tokoh perempuan Jepara berpengaruh yang ikut mewarnai arus perjuangan perempuan di Jepara.

Menurutnya perjuangan perempuan tidak melulu memfokuskan perhatian pada skala luas. Adakalanya berbagai dinamika perempuan yang muncul berasal dari skala kecil, contohnya tingkat regional.

“Hasimah mungkin saja tak menyengaja bermain di kancah provinsi atau nasional karena berkonsentrasi mengembalikan tatanan Jepara sebagai kota bertempatnya wanita-wanita utama,” katanya.

Buku ini boleh jadi merupakan buku alternatif utama bagi arus perjuangan perempuan Indonesia. Sosok Hasimah disajikan dengan lugas dan ditempatkan sebagai manusia seutuhnya, sehingga tidak terdapat pembeda antara pria maupun wanita. Sebab, bagaimanapun juga, Hasimah adalah manusia. Wanita yang punya kekuatan politik besar di Jepara. Bahkan, pengaruhnya terkait kebijakan-kebijakan pada tatanan birokratif tidak kalah dibandingkan Kartini.

“Sebagai sebuah buku yang mungkin belum memberi dampak besar bagi perjuangan kaum perempuan di Indonesia, namun tentu saja dengan hadirnya buku ini merupakan sebuah pijakan awal untuk menjadi lebih baik,” ujarnya.

Ia berharap dengan diterbitkannya buku tersebut, studi feminisme Indonesia bisa lebih terbuka. Bahwa perempuan Indonesia tidak perlu menjadi Barat hanya demi terlihat kuat.

Biografi Penulis

Haris Djoko Nugroho, lahir di Jepara, merupakan putra ke-4 dari pasangan (Alm) MS. Soeharsono dan (Almh) Hasimah. Penulis lahir dan besar di Jepara hingga tamat Sekolah Menengah Atas (SMA). Selesai SMA tahun 1984, penulis melanjutkan pendidikan sarjananya di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Pada saat kuliah, ia memantapkan tekadnya bergabung dengan TNI AL melalui Jalur SEPAMILSUK ABRI I tahun 1988 dengan Pangkat Perwira Pertama. Ia lantas meneruskan kuliahnya hingga lulus S1. Di sela-sela penugasan, ia melanjutkan pendidikan formalnya pada Studi Magister Pengelolaan Sumber Daya Laut dan Pesisir IPB Bogor serta menyelesaikan program Doktor Ilmu Manajemen SDM UNJ Jakarta.

Karier militernya dimulai ketika penugasan di Mabes TNI Tahun 1988, sebagai Perwira di Dishidros TNI AL (sekarang Pushidros TNI AL) dengan berbagai penugasan yang menjadikan penulis sebagai surveyor hidrografi bidang 182 kelautan.

Selanjutnya, tour of area ke Ditwilhan di Ditjen Strahan Kemenhan RI dengan jabatan di bidang kebijakan perbatasan Laut, darat dan Udara. Pada tahun 2016, kembali bertugas di Pushidros TNI AL, sampai dengan sekarang.

Pengalaman lain penulis adalah pernah aktif menjadi anggota Tim Teknis perundingan batas laut dan batas darat Republik Indonesia dengan negara tetangga pada tahun 2008-2016, serta beberapa kali menjadi narasumber dan pembicara pada kuliah umum dan seminar berkaitan dengan bidang hidrografi, pengelolaan pesisir, dan pulau kecil terluar, serta penetapan batas laut RI dengan negara tetangga.