Bhineka Agama, Seni dan Budaya

Tradisi Sekaten sebagai wujud kebhinekaan Agama seni dan Budaya

Sebuah bangsa yang tidak memiliki kebudayaan yang kuat, sudah bisa dipastikan bangsa itu tidak akan memiliki karakter, bahkan lebih jauh lagi tidak akan bisa bertahan lama. Kita bisa melihat fakta sejarah, bagaimana bangsa-bangsa di dunia yg akhirnya runtuh karena tidak memiliki akar tradisi budaya yg kuat. Sebut saja Andalusia, Bangsa Kurdi, Burma, Kasultanan Mindanao, Sulu, dan Sambowanga di filipina, harus runtuh setelah mengalami krisis multidimensi yang terjadi baik dari dalam maupun luar akibat lemahnya akar budaya pada bangsa tersebut.

Dari fakta sejarah diatas, kita bisa melihat betapa penting peran budaya utuk menjaga eksistensi sebuah bangsa oleh karena budaya adalah hasil olah budi pemikiran manusia di sebuah bangsa yang menentukan arah pandang atau ideologi bangsa tersebut. Olah budi inilah yang menciptakan karya seni yang membentuk peradaban di sebuah bangsa.

Kita bisa melihat megahnya peradaban dari sebuah bangsa yang memiliki akar tradisi yang kuat, seperti halnya Indonesia yang memiliki warisan budaya “Candi Borobudur”, Kalender musim “Pranata Mangsa”, Kalender “Sengkala” (Candra/Surya Sengkala), kesenian dan bahasa daerah yang tersebar seantero nusantara yang tak terhitung jumlahnya. Bandingkan dengan negara tetangga yang tidak memiliki akar tradisi budaya yang kuat, kesibukannya hanya meng-klaim budaya-budaya bangsa kita.

Agama, Seni, dan Budaya memiliki korelasi yang amat kuat. Agama menurut Clifford Geertz merupakan fakta kultural, bukan sekedar ekspresi kebutuhan sosial atau ekonomis –seperti kata Durkheim dan Karl Marx-. Pemahaman terhadap agama dalam satu tempat tertentu, sangat terbantu oleh kejelian kita melihat aneka simbol, ide, dan adat istiadat setempat. Ini menjelaskan mengapa pemahaman agama masing-masing orang atau bangsa berbeda? Itu karena budaya mereka berbeda.

Kita tidak bisa memandang suatu agama menjadi satu kesatuan yang sama seperti misalnya Islam di Arab tentu berbeda dengan Islam di Indonesia. Di Arab tidak mengenal adanya tahlilan, slametan, kenduri, sekaten atau perayaan apapun yang sifatnya makan-makan. Kenapa? Karena Arab adalah negeri padang pasir, sedangkan Indonesia adalah negeri lumbung makanan. Oleh karena berlimpah makanan, maka terciptalah tradisi-tradisi keagamaan yang bersifat makan-makan dari seorang anak manusia itu lahir sampai meninggalnya pun masih makan-makan.

Budaya adalah hasil dari olah budi manusia yang sangat dipengaruhi lingkungan, sedangkan agama adalah wahyu dari Tuhan yang sifatnya mutlak jelas memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Akan tetapi, keduanya saling melengkapi. Agama masuk ke suatu wilayah tergantung penerimaan budaya wilayah tersebut. Sebagaimana dijelaskan Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Wali Songo yang menggambarkan betapa sulitnya Islam masuk di bumi Nusantara karena pebedeaan kultur budaya yang sangat jauh dimana orang-orang asing (pendakwah Islam) dikatagorikan menjadi kasta terendah dalam peraturan masyarakat kala itu, butuh setidaknya waktu 800 tahun agar islam akirnya dapat diterima di bumi Nusantara setelah mengalami periode asimilasi-asimilasi kebudayaan.

Kita juga bisa melihat dengan jelas bagaimana agama juga melahirkan kebudayaan dan kesenian di dalam suatu masyarakat. Sebagaimana kesenian-kesenian di Bali. Kesenian di Bali identik dengan kehidupan religi masyarakatnya sehingga mempunyai kedudukan yang sangat mendasar. Hal tersebut di lakukan para penganut agama Hindu sebagai bentuk keyakinan kepada Hyang Maha Kuasa. Kesenian kesenian tersebut biasanya di lakukan di pura pura (tempat suci), kesenian yang ada di antaranya seni suara,seni tari,seni karawitan, seni lukis, seni rupa dan satra. Contoh kesenian yang umum di jumpai yaitu seni tari. Pregina (penari) mempunyai semangat yang luar biasa,hal tersebut di lakukan sebagai perwujudan bakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa( Tuhan yang Maha Esa), pembaktian tersebut sebagai wujud rasa rindu ingin bertemu kepada sang penciptanya.

Sedangkan di banten terdapat kesenian “Debus” yang setelah ditelusuri sejarahnya merupakan ajaran dari “Thariqat Rifa’iyah” yang berasal dari Baghdad. Di tempat asalnya Debus adalah amaliah laku ruhani bagi para pengikutnya untuk dapat ma’rifat dengan Tuhannya. Akan tetapi begitu sampai di Banten, Debus menjadi sebuah kesenian daerah berupa olah kanuragan dan atraksi pertunjukan kemampuan fisik manusia yang disiksa (seperti ditusuk, disayat, diiris, dibakar dan lain-lain) dengan menggunakan benda-benda yang berbahaya bagi tubuh tanpa mengalami luka sedikitpun. Debus juga dalam bahasa Arab berarti tongkat besi dengan ujung runcing berhulu bundar. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh budaya suatu masyarakat sangat penting untuk mempengaruhi penerimaan atau penyebaran agama di suatu wilayah.

Oleh karena agama, seni dan budaya dalam suatu masyaratkat adalah nafas peradaban bangsa sekaligus menjadi benteng pertahanan eksistensi sebuah bangsa. Maka seyogyanya kita sebagai umat beragama yang berkebudayaan harus menjujung tinggi nilai-nilai kebudayaan yang selaras dengan nilai agama agar tecapai keharmonisan, kedamaian dan toleransi antar umat beragama dalam hidup berbangsa dan bertanah air, sebagaimana semboyan pamungkas “Bhineka Tunggal Ika”.

2 thoughts on “Bhineka Agama, Seni dan Budaya

  1. Tulisan yang bagus.
    Kontennya menarik, hanya saja, sebagai akademisi bahasa Indonesia, saya gatal ingin mengedit beberapa bagian dari artikel ini.

    Ditunggu tulisan selanjutnya. 🙃

Add Comment