BUS KOTA

Oleh: Ali Burhan

Matahari memanggang hamparan panjang aspal hitam, teriknya menembus ubun-ubun bus tengil jurusan Jepara-Semarang. Suara meraung deru mesin terhias kerit pintu dan jendela bus yang tak kukuh, membuktikan bahwa bus ini telah mati-matian melawan zaman. Bus renta dengan sopir lusuh dan kernet tengil merangkak pelan menyisir penumpang yang masih sepi. Sesekali Kernet bersiul keras memecah irama yang diiringi teriakan tidak jelas.

“Marang… Marang… Marang…”

Tidak ada yang risih dan kritis dengan dialek Kernet yang menyingkat Semarang menjadi “marang”. Malah Ibu-Ibu bakul sibuk berdzikir jamaah dari harga bumbu dapur sampai krupuk kerung. Hari ini di bus Jepara-Semarang, dari tempat duduk paling belakang, aku membaca basmalah yang jauh tergantung di atas kepala sopir. Sementara dihadapanku sekeranjang ayam dan bau tainya yang berbaur dengan solar dan kepulan keringat dekil penumpang yang terpanggang pengapnya bus tanpa AC. Semua menyungut berhambur di hidungku. Mesra dan padu, harmoni basmalah, wajah-wajah mutmainnah dari Ibu-ibu bakul, bau solar, keringat, deru mesin, derit pintu dan jendela Bus yang kendor, dan tai ayam.

“Gusti…” Sungguh aku telah dimanja zaman, terlarut dalam pikuk modernitas. Otakku telah terstandart tanpa sadar, standart jajan di warung-warung modern dengan menu fastfood, standart belanja segala kebutuhan di mini market, standart pakaian dengan merk ternama, bahkan standart belanja perabot dan lain-lain di online shop yang tidak harus capek menawar harga. Standart jam kerja yang terjadwal, piknik keluarga yang terjadwal. Sudah 7 tahun aku tidak naik bus kota Jepara-Semarang, bukan karena aku tidak pernah bepergian, tapi aku selalu pakai jasa travel atau bus besar kelas eksekutif. Aku duduk di kursi merah yang warnanya telah menjadi kehitaman karena tertumpuknya ratusan, bahkan ribuan daki penumpang yang bercampur debu jalanan yang berbahan dari tanah, ludah kering, kotoran kuda, gas emisi mesin, dan seribu bahan lainnya yang bisa diterbangkan angin. Andai aku bawa mikrospkop, akan aku lihat mereka, tumpukan jutaan molekul kotor yang bercampur menjadi satu.

“Ciiiiiitttttt…..”

Untung reflektifitasku masih normal, kutahan tubuhku dengan tangan memegang sandaran kursi didepanku, aku hampir saja jatuh menimpa tumpukan ayam. Kernet berteriak memaki bakul sayur bersepeda motor dengan tombong yang ndeger-ndeger kepayahan menghindari bus, gemuruh penumpang serentak memaki juga bakul itu mengamini kemarahan Kernet, meski mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Para ayam yang tadi tenang setelah sebagian mereka “BAB”, ikut riuh bersuara dan bergerak.kembali aroma tai mengepul lebih dahsyat dari sebelumnya, aku nyengir.

Terik tak ada ampun menyengat siapapun dibawahnya. Siang yang biasa bagi Kernet dan Pak Sopir. Bus merangkak makin pelan menghampiri antrean puluhan Ibu-Ibu di trotoar. Melihat kereta besi raksasa yang dinanti datang, mereka langsung berjubel berebut masuk Bus, apalagi beredar isu besar yang akan mengacaukan aktifitas Ibu-Ibu bakul jika mereka tidak mempercayainya. Isu yang dihembuskan kernet bahwa dibelakang tidak ada bus lagi memang sangat ampuh, para calon penumpang yang semula enggan masuk karena penuh, langsung lari terbirit-birit dan rela bergelayutan di pintu karena ketakutan kelamaan menunggu Bus berikutnya dari pasar Kalinyamatan. Tubuhku, ibu-ibu bakul yang sebagian lebih pantas kusebut nenek-nenek, dan jok kursi lusuh berhimpit sesak. Bus merangkak pelan menikmati pertemuan-pertemuan siang ini.

Doa puja-puji “Shalawatan Gus Dur” yang dipotong sopir sebelum selesai dan diganti dengan “Tiket Swargo” yang dinyanyikan oleh biduan genit dari tape recorder dengan over stelan bass melengking bersama irama koplo yang menghentak paksa. Suara deru mesin, celoteh Ibu-Ibu bakul, lagu lawang swargo, sesekali teriakan dan cuitan kernet mengendalikan lalulintas, dan bunyi klakson yang menghantam gendang telinga tiba-tiba adalah orkestra yang aku dengar dan saksikan siang ini. Aku berfikir keindahan nuansa ini mestinya menjadi inspirasi Erwin Gutawa Orchestra di Jakarta sana untuk karya-karyanya sebagai potret keindahan yang berbeda dari dawai biola dan denting piano seharga ratusan juta.

Aku terfokus pada nyanyian;

“Tiket neroko regane larang, nanging seng seneng sepirang-pirang 2X, Tumindak doso pancene gampang. Tiket swargo regane murah, nangeng anehe akeh seng wegah 2X, Tumendak becik angel lakone”.

(Tiket neraka harganya mahal, tapi banyak yang menyukai 2X. Berbuat dosa memang mudah. Tiket sorga harganya murah, tapi anehnya banyak yang menolak 2X. Berbuat baik melakukannya memang sulit).

Meski tanpa visual, aku membayangkan biduan yang menyanyi itu melenggok dengan seksi dan asik.

“Tenang Mas, nanti di Pasar Welahan sebagian penumpang ini akan turun”.

Lamunanku terpecah oleh kata-kata Kernet yang dengan rikuh menenangkanku karena harus berdiri bergerlayut di pintu reot Bus. Mungkin ia tadi melihat aku di gusur paksa oleh rasa iba kepada nenek-nenek bakul yang saat ini telah pulas setelah sesaat duduk di kursiku atau mungkin karena sebab lain, aku tidak tahu. Nanti aku ceritakan sebab yang lain itu, aku hanya mesem.

Ditengah Bus yang merangkak pelan itu, lamunanku terusik oleh seorang nenek yang menyodorkan Rp. 3.000,- setelah di colek kernet. Sang kernet ragu sesaat melihat kenyataan itu, tapi kemudian tangannya digulung. Aku lihat Ibu-ibu lain menyodorkan Rp. 5.000,-.

Mandap pundi, Mbah?” (Turun mana, Mbah?) tanyaku setelah kernet kembali bergelayut di pintu.

Welahan“. jawabnya, dan sebelum aku menghela nafas untuk sekedar menebar senyum, ibu-ibu dipinggirnya nyeletuk.

“Kowe saake, to mas? Arep mbok wenehi nggon lungguh?“. (Kamu kasihan to mas? Mau kamu persilahkan duduk?). Aku tersenyum nyengir karena bukan itu maksud pertanyaannku. Aku hanya terusik ingin tahu lebih jauh kenapa kernet dekil itu ragu menerima sodoran uang dari sang Nenek?.

“Rp. 3.000,- dari Pasar Kalinyamatan sampai Welahan, dan kernet menerima dengan tenang, hmmmm…”. Gumamku.

Ku tatap mata nenek yang adem itu, lembut tanpa dosa dan disisi lain wajah kernet yang pasrah dengan rizkinya. Disinilah aku bertanya, sang kernet rikuh kepadaku itu karena kasihan kepadaku yang tergusur tempat duduk, atau karena aku bayar full VIP Rp. 25.000,- dan tidak kebagian tempat duduk sementara nenek-nenek dengan Rp. 3.000,- telah tenang melepas lelahnya, duduk dikursi belakang.

“Hmmmm….”

“Biasa, Mas. Si Mbah itu mengira hari ini Pak Harto masih jadi presiden, dengan uang Rp. 3.000,-, seolah ia sudah menjadi Ratu di Bus ini. Hehehehe…” Kernet bersandar di pintu Bus yang berjalan pelan, tersenyum padaku sambil memilah-milah dan menghitung uang kertas ribuan yang tebal ditangannya. Aku membalasnya dengan senyum.

Mobil berderit berhenti di Pasar Welahan dan benar kata Kernet, sebagian besar penumpang turun dengan tergesa-gesa. Kernet dengan sigap menerima dan meletakkan wakul ataupun anting, bahkan karung yang entah berisi apa, yang disodorkan Ibu-Ibu bakul dari dalam Bus secara marathon di Trotoar. Setengah berebut, para penumpang turun dari Bus. Seketika penumpang Bus tinggal sepertiganya saja, meski masih terasa panas, namun semilir angin dari luar jendela sangat menyejukkan. Kernet tersenyum melihatku sudah duduk di jok paling belakang yang sudah longgar.

Diam-diam aku memperhatikan wajah lusuh disampingku itu, matanya merah karena debu jalanan, kaos hijau bergambar partai yang melekat ditubuhnya tampak kusut dan pudar tidak terurus, seperti nasibnya. Kakinya dekil, hitam keras dan berdebu, bercelana pendek, beberapa ruas jarinya menyembul dari sepatunya yang kotor dan bolong dimakan waktu. Nampaknya ia sadar kuperhatikan, kepalanya mendongak kepadaku seraya berkata :

“Sudah beda dengan dulu, Mas. Sejak banyak sepeda motor dan travel, pekerjaan jadi sepi.” Katanya seolah menjawab pertanyaan yang tidak aku ajukan.

“Iya”. Aku mengangguk, kulempar senyum padanya agar ia nyaman bercerita.

“Pasrah ya, Mas. Yang penting bisa setoran, dan kelebihannya untuk makan dan sangu anak-anak sekolah, hehehe…”. Katanya nyengir.

Belum sempat aku membalas senyumnya kali ini, tiba-tiba Bus berhenti di sebuah pertigaan, dengan sigap Sang Kernet melompat dan mengejar penumpang yang bersiap naik melalui pintu depan. Meski aku tidak butuh balasan, aku tetap menghantar kepergiannya dengan senyum.

Secuil harmoni ini kutemukan di dalam aquarium butut berroda. Birama kehidupan, ada malam-siang, panas-dingin, susah-senang, langit-bumi, kemarau-hujan, laut-darat, dan sederet kebalikan dari setiap kenyataan. Satu yang banyak dari manusia lalai membaca, yakni ruang diantara dua kenyatan tersebut, mudah membaca malam dan begitu juga siang, tapi gamang membaca senja atau subuh sebagai penghantarnya. Mutiara ada di penghantarnya, itu kenapa diwaktu-waktu itu kita dituntut menghadap-Nya secara khusus. Mutiara itu adalah harmoni, pertemuan sisi-sisi kenyataan yang berbeda akan menghantar keindahan dan kerinduan. Entahlah, akankah nuansa ini akan disaksikan anak-anakku, kelak?


  

Add Comment