Dari Jepara untuk Indonesia

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor Kamla Zona Timur. BAKAMLA

Menjadi putra ke-4 dari enam bersaudara yang lahir di Jepara dari pasangan (Alm) MS. Soeharsono dan (Almh) Hasimah merupakan anugerah yang saya syukuri dalam hidup saya. Jepara yang juga dijuluki Bumi Kartini memiliki cerita panjang di balik cerita hidup saya. Pun, perjalanan karier saya dimulai dari kota ujung utara pulau Jawa ini.

Lahir dan besar di Jepara, pendidikan formal saya mulai dari SDN 01 Jepara, lulus tahun 1977, SMP Negeri 02 Jepara, lulus tahun 1981, SMA Negeri Jepara, lulus tahun 1984, setelah tamat SMA saya memutuskan melanjutkan pendidikan sarjana di Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Di pertengahan menempuh gelar sarjana saya memantapkan tekad bergabung dengan TNI AL melalui jalur SEPAMILSUK ABRI I tahun 1988 dengan Pangkat Perwira Pertama. Dengan begitu, masuk ABRI dan kuliah dapat diteruskan hingga lulus S1.

Di sela-sela penugasan menjadi abdi negara, singkatnya, saya melanjutkan pendidikan formal pada Studi Magister Pengelolaan Sumber Daya Laut dan Pesisir, IPB Bogor, serta menyelesaikan program Doktor Ilmu Manajemen SDM UNJ Jakarta.

Sejak memulai meniti karier militer tahun 1988 dan mendapat penugasan di Mabes TNI sebagai Perwira Dishidros (sekarang Pushidros TNI AL) dengan berbagai penugasan di sana mengantarkan saya menjadi surveyor hidrografi bidang 182 kelautan. Saya kemudian mengabdikan diri sebagai perwira TNI AL di Dishidros TNI AL pada tahun 1991 sebagai Kepala Sub unit Geofisika di Satuan Survei Dishidros, 1992-1995 bergabung di jajaran kapal survei di KRI Dewa Kembar-932 (DKB).

Sejak tahun 1995 sampai dengan 2002, mendapatkan amanah menempati jabatan terakhir sebagai Kepala Sub Seksi Pengolahan Geografi Fisika, Subdis Survei Dishidros, tahun 2003 sampai dengan 2006 di Dispeta sebagai Kepala Seksi Verifikasi Peta, saya kembali di satuan survei tahun 2007 menduduki jabatan sebagai Kepala Seksi Administrasi, Satuan Survei, Dishidros, tahun 2008 sampai dengan 2014.

Saya juga melakukan tour off duty ke Direktorat Wilayah Pertahanan, Kementerian Pertahanan dengan jabatan sebagai Kepala Sub Direktorat Perbatasan Darat, Laut dan Udara, pada tahun 2014-2016. Kemudian, saya kembali berdinas di jajaran TNI AL dan dipercaya menduduki jabatan sebagai Kepala Kelompok Peneliti, Dishidros, tahun 2016-sekarang penulis menjabat sebagai Direktur Operasi Survei dan Pemetaan, Pushidrosal.

Berlanjut di Jakarta, tahun 1997 saya mengikuti pendidikan Australia and Military Familiarisation dan Hydrographic Course Cat B di Royal Australian Navy Australia, pada tahun 2000 pendidikan perwira fungsional II Hidrografi dan Oseanografi dan melanjutkan pendidikan jenjang karir Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (SESKOAL) pada tahun 2007 serta menambah keahlian dengan mengikuti kursus Pimpinan Manajemen Pertahanan pada tahun 2010.

Perjalanan karier berlanjut tatkala tour of area ke Ditwilhan di Ditjen Strahan Kemenhan RI dengan jabatan di bidang kebijakan perbatasan laut, darat, dan udara. Pada tahun 2016, kembali bertugas di Pushidros TNI AL, hingga 2022. Kemudian, mulai Juli 2022, saya diamanahi menjadi Kepala Kantor Kamla Zona Timur dan Direkur Strategi Kamla Bakamla RI. Pergantian jabatan dalam lingkup militer adalah hal lumrah dalam upaya pengembangan diri dan instansi secara berkelanjutan. Dan saya selalu memiliki semangat di setiap perjalanan karier ini.

Literasi Maritim

Orang-orang mengibaratkan kehidupan di dunia seperti musafir yang berhenti sejenak untuk minum, lalu ia meneruskan perjalanan. Pengandaian ini menegaskan betapa singkat kehidupan di dunia. Pula dengan perjalanan meniti karier selama 34 tahun. Dalam menjalani kehidupan yang singkat ini, saya mencoba untuk mengabadikan apa yang telah saya lakukan khususnya bidang kemaritiman, dalam sebuah buku: World Class Hydrographer (2020).

Dalam buku ini saya menuliskan potensi-potensi yang masih dapat dikembangkan di kemaritiman Indonesia. Indonesia sebagai negara kepulauan sudah selayaknya untuk menjadi Poros Maritim Dunia. Namun, untuk mencapai target tersebut tentunya tidak mudah. Diperlukan peningkatan pilar-pilar yang digunakan untuk mencapai visi Poros Maritim Dunia yang diinginkan oleh bangsa Indonesia.

Salah satu pilar yang sangat penting adalah Budaya Maritim dengan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bidang kelautan. Langkah mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dalam pengamatan saya selama ini perlu mendahulukan pengembangan SDM bidang kelautan dan perikanan dibandingkan pengoptimalan eksploitasi komoditas sektor kelautan dan perikanan. Sebab, perwujudan Poros Maritim Dunia membutuhkan kerja yang lebih keras dari semua pihak.

Pencapaian Poros Maritim bukan lantaran negara memiliki kelimpahan sumber daya laut, tetapi bagaimana memiliki SDM unggul di laut. Sosok BJ Habibie mengingatkan saya dalam membangun industri strategis termasuk maritim, yaitu PT PAL, dilakukan dengan terlebih dahulu mengirimkan putra-putri terbaik ke luar negeri agar mereka mendapatkan pendidikan terbaik.

Berbagai lembaga pendidikan benar-benar harus dilengkapi dengan penyediaan sarana, kurikulum, fasilitas, dan tenaga terlatih yang profesional. Mengenai lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui pendidikan jalur formal yang ada sudah cukup baik. Tinggal daya saing dan pengakuan kesetaraan sertifikasi kompetensi yang perlu diperjuangkan ketika akan bekerja di kapal dalam maupun luar negeri.

Selama ini, peserta didik Dikspespa Hidros dibatasi beberapa persyaratan karena mata pelajaran yang diberikan cukup berat. Kurikulum Dikspespa Hidros menitikberatkan materi dasar Surveyor Hidrografi berupa pelajaran eksakta yang memerlukan kemampuan personil yang baik. Kemampuan tersebut merupakan syarat mutlak bagi peserta Dikspespa Hidros karena jam pelajaran yang diberikan sangat singkat.

Namun perlahan, sebagian besar program Pendidikan Spesialisasi Perwira Hidro-Oseanografi sudah mencapai tujuan visi dan misi program hidros. Agar program yang dikembangkan dapat lebih maksimal, diperlukan penambahan tenaga pendidik dari universitas terbaik di Indonesia.

SDM lulusan Pusdikhidros diharapkan dapat menjadi sumbangan penting bagi pembangunan kelautan di Indonesia. Pada akhirnya, SDM berkualitas di bidang Hidrografi menjadi pilar penting untuk menyukseskan Poros Maritim Dunia yang dicanangkan bangsa Indonesia.

Literasi Jepara

Jepara tidak hanya terkenal dengan pesisirnya, tetapi juga terkemuka sebagai daerah penghasil pemikiran-pemikiran, sekaligus sepak terjang perjuangan kaum wanita. Menyandang gelar doktor rasanya kurang puas apabila tidak terlibat dalam hal itu. Dan, saya ingin memiliki kemanfaatan terhadap tanah kelahiran. Sebagai salah satu putra dari Kota Ukir, saya sejak lama memiliki cita-cita untuk memotret objek Kejeparaan dengan membingkainya dalam sebuah buku bertema Literasi Jepara. Isinya, tentu tidak jauh dari keluarga dan ciri khas Jepara sebagai Kota Perjuangan Kartini.

Salah satu dari sekian banyak literasi yang dapat dituliskan, perjuangan kaum wanita di Jepara memiliki setangkup sejarah bagaimana wanita memiliki power untuk meraih kesetaraan dengan kaum pria. Sejarah yang selalu diabadikan dan diperingati setiap tanggal 21 April. Perjuangan RA Kartini sebagai wanita yang memperjuangkan hak-hak kaumnya agar memiliki kesetaraan gender selalu memiliki ruang di hati saya.

Dari sejarah itu saya memiliki cerita hidup yang mirip dengan kisah perjuangan Kartini. Saya mengambil cuplikan perjuangan kaum wanita yang saya dapatkan dari ibu tercinta, Hasimah Soeharsono. Kehadiran ibu sebagai sosok wanita yang memiliki catatan bersejarah dalam masa hidup, saya abadikan dalam buku, tersebab beliaulah yang memberikan peran besar terhadap kehidupan saya sampai sekarang.

Perjuangan perempuan tidak melulu memfokuskan perhatian pada skala luas. Adakalanya berbagai dinamika perempuan yang muncul berasal dari skala kecil. Hasimah mungkin saja tak menyengaja bermain di kancah provinsi atau nasional karena berkonsentrasi mengembalikan tatanan Jepara sebagai kota bertempatnya wanita-wanita utama.

Tangan dingin seorang Hasimah tertuang dalam sebuah cinta dan cita. Kekaguman saya dengan beliau saya suratkan dalam sebuah buku berjudul Pengabdian untuk Jepara, Kisah Hidup Hasimah Soeharsono (2020). Dituliskan diseratan Hasimah dengan garis bawah, menandakan tekad dan tujuan hidupnya. Sebisa mungkin mengusahakan bahwasanya hidupnya tidak berakhir sia-sia.

Capaian demi capaian yang direngkuh Hasimah jarang sekali meleset dari perencanaan yang telah disusun. Ia mampu memperhitungkan dengan hampir sempurna kausalitas sebab dan akibat dari sebuah keputusan. Semacam hal itulah yang membuat saya terkagum-kagum. Terhadap kemampuannya tersebut, seharusnya Hasimah bisa saja memperluas pencapaian-pencapaian di atas tingkatannya. Namun, nyatanya Hasimah lebih nyaman memberdayakan kemampuannya di Jepara.

Pengaruh besar Hasimah di dunia politik Jepara tidak muncul secara instan. Perjalanan Hasimah, mulai dari latar belakang kelahirannya di Ponjong, Gunungkidul, pembentukan diri di Yogyakarta, dan pembaktian diri kepada Jepara di bidang politik, dilaluinya dari pendidikan yang mumpuni. Tidak semua orang dapat bersekolah saat Hasimah masih muda, dan dari situlah ia membangun fondasi perjuangan kaum wanita.

Meski berjibaku di dunia politik, Hasimah nyatanya berhasil menemukan sebuah resep khas untuk merawat anak-anaknya. Seluruh anak-anaknya telah dadi wong. Dalam konsep budaya Jawa, konsep dadi wong dari seorang ibu kepada anaknya berarti sebuah harapan bahwa kelak semoga anak-anaknya mendapatkan kedudukan yang tinggi dan mendapat penghormatan.