Merdeka Semi Budiman

Jujurly, semakin lama saya hidup di negeri ini semakin bingung pulalah saya akan arti kata “merdeka”. Rasanya hidup di negeri ini kok semakin ngeri dan susah saja. Semuanya menjadi semakin mahal dan langka. Apakah nanti saya bisa survive meniti kehidupan atau justru punah dalam ganasnya seleksi alam?

Mungkin saya perlu evaluasi diri, jangan-jangan saya pribadi adalah warga yang semi budiman yaitu warga yang pura-pura tidur saat ada kerja bakti lingkungan. Juga warga yang sering memanipulasi laporan pajak tahunan menjadi 0 rupiah, yang jelas saya adalah warga negara yang belum merdeka baik secara finansial, jiwa raga dan spiritual.

Seperti yang dilakukan kebanyakan warga semi Budiman seperti saya, tentu akan lebih enteng kalau menisbatkan semua kemalangan hidup kepada yang mulia bapak presiden Jokowi. Mungkin kalau Pak Jokowi mendengar keluh kesah saya beliau akan merespon, “Lho ya ndak tahu, kok tanya saya?” dengan logat khas solo tentunya.

Saya hanya berani merefleksi kata merdeka untuk konsumsi pribadi. Terlalu akbar dan naif rasanya kalau harus merefleksikan kemerdekaan bangsa ini dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis. Apakah bangsa ini sudah benar-benar merdeka dari penjajahan ideologi, budaya, pola pikir, kemandirian ekonomi dan lain sebagainya?

Saya hanyalah sebutir kacang hijau, kata Gus Mus menganalogikan kekerdilan diri dan ilmunya. Jadi biarlah saya mencari pemahaman akan arti kemerdekaan dari sudut pandang saya pribadi, seorang warga negara yang berprofesi sebagai peternak sapi perah dan guru Bahasa Inggris di waktu luangnya. Supaya tidak ada yang merasa tersinggung apalagi terhakimi. Saya belum siap disomasi!

Setelah membaca banyak literatur tentang kemerdekaan saya menemukan beberapa makna kata “merdeka”. Diantaranya, kata merdeka berasal dari Bahasa Sansekerta, “Maharddhi“ (Sansekerta, Monier Williams:1841) yang berarti kesempurnaan.

Kemudian dalam transformasinya ke Bahasa Jawa Kuno berubah menjadi kata “Maharddhika” (Zoetmulder,1982) yang artinya masih sama yakni kesempurnaan, atau kekuatan penuh.

Bahasa Jawa baru kemudian mengenalnya dengan kata ‘Mardika”, yang menurut Poerwadarminta dalam Bausastra Jawa tahun 1939 memiliki makna:

1. ora kawngku lan karh ing panguwasa liyane (ora kbawah ora kprentah)

(tidak dipangku/dikuasai dan diperintah oleh penguasa lain)

2. luwar saka ing ssanggan (pajg, gugur gunung lsp)

(keluar dari beban pajak atau rodi)

Lama saya merenung meresapi makna kemerdekaan diatas. Belum selesai saya merenung munculah tulisan dari kitab Nitisastra IV.19, yang berbunyi :

“Lwirning mangdadi madaning jana,surupa dhana kalakulina yowana. Lawan tan sura len kasuran, agawe wereh i manahikang sarat kabeh. Yan wwanten sira sang dhaneswara, surupa guna dhanakulina yowana. Yan tan mada, maharddhikeka pangaranya sira putusi sang pinandita”.

(hal hal yang menjadikan manusia itu mabuk ialah paras yang bagus,kekayaan, kebangsawanan dan keremajaan.juga minuman keras dan keberanian itu dapat membuat hati menjadi mabuk. Jika ada orang kaya, tampan wajahnya,pandai,banyak mempunyai harta benda,bangsawan dan muda,tetapi tidak mabuk karenanya, ia itu adalah orang bijaksana, seorang yang berbudi Maharddhika (telah bebas dari soal keduniawian).

Semakin yakinlah saya bahwa saya belumlah menjadi manusia yang merdeka atau Maharddhika. Oleh karena dalam kitab Nitisastra yang dalam ajaran india kuno merupakan kitab-kitab yang mengandung kebijaksanaan hidup, merdeka berarti menjadi seperti pendeta Maharddhika yang telah melepaskan diri dari kekuasaan nafsu keduniawian.

Paham neo kolonialisme imperialisme masih begitu melekat dalam jiwa kepribadian saya. Doktrin-doktrin kapitalisme sudah menjadi bapak ideologis saya. Sekularisme sudah mendarah daging dalam sanubari. Sehingga, parameter kesuksesan dan kemuliaan seseorang hanya saya pandang dari segi kekuasaan dan kepemilikan harta bendanya saja.

Keterikatan saya terhadap duniawi begitu melekat sehingga menutupi kemerdekaan saya untuk menjadi Insan kamil yaitu manusia yang sempurna/paripurna. Kalau saja diri saya tengah merdeka tentu saya tidak akan mengeluh Ketika Gas LPG langka, karena saya bisa membuat biogas dari kotoran manusia atau hewan.

Juga dikala minyak goreng langka saya bisa membuat minyak kletik dari kelapa, atau seperti saran Ibunda guru bangsa untuk merebus atau mengukusnya saja. Juga saat tarif dasar listrik terus mengalami kenaikan saya bisa memulai untuk menggunakan pembangkit listrik alternatif dari tenaga surya, seperti yang dilakukan oleh teman-teman Bumi Langit di Imogiri.

Saya belum menjadi manusia merdeka karena saya belum bisa mengolah kebutuhan jasmani saya dari hulu sampai hilir. Saya belumlah menjadi manusia merdeka karena ruhani saya masih begitu melekat dan terikat akan keduniawian. Sehingga mengabaikan pesan dari Syaikh Datuk Abdul Jalil, “Dia yang tidak memiliki apa-apa tidak akan kehilangan apa-apa”

Apapun itu Dirgahayu Bangsaku, tanah airku, tumpah darahku. Semoga kelak jiwa-jiwa anak cucu kami dapat bertumbuh menjadi jiwa-jiwa merdeka, seperti burung garuda yang terbang sendirian dengan gagah perkasa di angkasa.